Literasi dan Perempuan di Moment Internatioanal Woman’s Day 2026


  

(Foto bersama usai giat nonton bareng dan diskusi. Dok.Pribadi)


  Berangkat dari pengalaman dan keresahan yang dialami oleh perempuan-perempuan, terlebih khusus perempuan papua saat ini, sedang mengalami problematik secara budaya yang tidak memihak pada perempuan dan penerapan sistem kapitalis yang juga memarjinalkan perempuan, akhirnya berdampak pada beban ganda yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri, dari ranah domestik dan publik bahkan sering tidak diberikan ruang-ruang dalam pengambilan keputusan.

Setiap tanggal 8 Maret, biasa di peringati sebagai Hari Perempuan Sedunia “International Woman’s Day”, yang dimana kesempatan ini menjadi salah satu ruang bebas berekspresi untuk semua perempuan yang ada di belahan dunia, termasuk perempuan papua.

Hari Perempuan Sedunia tahun ini, tepat  tanggal 8 maret 2026 secara pribadi, saya terkesan dari giat nonton bareng dan diskusi, yang diselenggarakan oleh para penggiat literasi yang ada di Paniai, Provinsi Papua Tengah, yang terdiri dari tiga komunitas , di antaranya, Komunitas Ruang Belajar Komugai, Komunitas Membaca Tanpa Batas dan Gerakan Papua Mengajar. Dengan topik “Perempuan dan Literasi”. Tempatnya di Kedai Kopi Ko Puaz, Nunubado. Kedai ini juga, menyediakan kopi dari hasil olahan petani kopi paniai. Selama giat berlangsung, disediakan juga lapak buku-buku bacaan, kopi paniai dan makanan asli Ubi (Nota).  

Film Dokumenternya ialah “Mama Hani Felle, pejuang literasi dari kampung, Yoboi, Papua. Mama Hani Felle, mendirikan Rumah baca Onominibi pada tahun 2018. Tujuannya untuk mempromosikan literasi dan memberdayakan masyarakatnya, walaupun awalnya menghadapi keraguan karna latar belakang pendidikan yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan kurang di dukung oleh masyaratnya yang belum memahami pentingnnya literasi serta meragukan gerakannya karna dianggap hanya seorang perempuan yang tidak mampu dan tidak penting dalam memberikan kontribusi bagi pendidikan tetapi dengan perjuangan kekonsistenannya untuk tetap berjuang dan akhirnya diakui oleh Kementrian Pendidikan hingga bisa membawa dampak besar, seperti membantu anak-anak mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri, bahkan salah satu anak didikannya menjadi Ketua Forum anak di Jayapura. Selain itu, Mama Hani Felle juga bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan untuk program “Sekolah Sagu” yang mengajarkan masyarakat cara manfaatkan hutan sagu secara berkelanjutan dan ini merupakan bagian dari literasi budaya.  Atas dedikasinya, Mama Hani Felle menerima penghargaan Nugra Jasa Drama Pustaloka, pada tahun 2023 dari Perpustakaan Nasional. Sinopsis dari film dokumenter ini, menjadi salah satu inspirasi bagi kami anak-anak muda lainnya untuk tetap berjuang demi memajukan literasi.

Setelah sesi pertama, nonton bareng, dilanjutkan dengan sesi kedua, yakni ruang bebas diskusi dan diawali dari para penggerak literasi untuk menanggapi isi film dokumenter kemudian mereka membagikan perjuangan pengalaman lika-liku dalam kegiatan belajar, mengajar dan lapak-lapak baca yang dilakukan. 

Sesi akhir, dilanjutkan dengan ruang bebas untuk semua peserta kegiatan. Dalam giat ini, ada beberapa catatan yang  menjadi penting yakni:

1.   Literasi milik semua orang yang mau tekun belajar dan bertumbuh.

2. Setiap perempuan punya cerita perjuangan dalam hidupnya masing-masing sehingga perempuan harus mulai bangkit untuk berani Speak-Up, mengorganisir diri dalam ruang-ruang diskusi, komunitas literasi dan gerakan sosial serta bidang lain yang menjadi profesinya.

3. Mengapa literasi penting bagi perempuan karena kecerdasan seorang anak, diturunkan oleh Gen Mama, sehingga semua perempuan harus mendapatkan akses pendidikan yang layak demi mencerdaskan anak-anaknya untuk kemajuan literasi.

4. Diharapkan agar di setiap dusun-dusun harus ada kelompok literasi demi kemajuan generasi anak papua kedepan.


            Melalui ruang-ruang yang edukatif  ini, saya mendapatkan pengetahuan-pengetahuan positif dari para  penggerak literasi yang menjadi lilin untuk sesama. Harapan saya, semoga semakin banyak ruang-ruang diskusi positif yang dilakukan di Paniai, agar kesadaran kritis dibangun bersama untuk kebaikan bersama.




                                                                    Quotes:
 “Teruntuk setiap perempuan, tidak ada batasan untuk capai apapun yang diinginkan. Maka, kamu berhak melangkah, bertumbuh dan berdaya untuk mewujudkannya”.

“ Kemerdekaan besar, tidak akan tercapai, jika tidak libatkan perempuan didalamnya karena penindasan berlapis dialami oleh perempuan”.

 

    Akhir dari tulisan sederhana ini, saya mengucapkan selamat memperingati hari perempuan sedunia “Happy International Woman’s Day, 8 Maret 2026.


 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Refleksi Kegiatan Muspasmee VIII di Komopa

Dong Pu Kebiasaan: "Kembalian Tidak Ada, Ambil Permen Saja"