Dong Pu Kebiasaan: "Kembalian Tidak Ada, Ambil Permen Saja"

 


Foto: Ilustrasi kios di Paniai

Pagi itu, sekitar pukul 08.20 WIT, hari Senin, 6 April 2026. Cuaca cerah. Seperti biasa, saya pergi ke Pasar Enarotali untuk belanja ubi dan sayur dari mama-mama Papua. Saya memang selalu bawa tas sendiri, kadang tote bag, kadang noken, supaya tidak menambah sampah plastik di lingkungan.

Hari itu saya bawa noken. Setelah belanja, saya singgah di pom mini di Bapouda untuk isi bensin motor. Penjualnya seorang Mama orang 'pendatang', usia sekitar 50-an. Saya bilang isi penuh, tanpa sebut nominal. Setelah selesai, saya lihat harganya Rp 37.000.

Saya bayar Rp 40.000. Dua lembar Rp 10.000 dan satu lembar Rp 20.000. Lalu penjual bilang, “Sisa ambil saja permen Kopiko atau Gem babol.” Saya jawab baik-baik, saya tidak mau, karena saya belanja sesuai kebutuhan saja.

Dia lalu suruh anaknya cari uang kembalian ke tetangga, tapi tidak dapat. Sambil tunggu, dia perhatikan uang Rp 20.000 yang saya kasih, katanya ada sedikit robek di ujung. Nada bicaranya langsung berubah kasar. Katanya, “Kenapa kasih uang robek? Nanti orang lain tidak mau terima. Ada uang lain, kasih saja.” 

Saya tidak mau ribut. Jadi saya ganti dengan Rp 100.000. Dia kasih kembali Rp 60.000. Saya simpan di noken, dan masih tunggu kembalian Rp 3.000 dari harga awal tadi. Tapi tiba-tiba dia bilang dengan nada tinggi, “Tadi saya sudah kasih Rp20.000 ke nona, cepat kasih kembali!” Bah, saya kaget.

Saya tunjukkan kalau dia baru saja kasih Rp 60.000, dan saya masih tunggu Rp 3.000. Tapi dia tetap bersikeras, malah kembali suruh saya ambil permen saja. Di tengah situasi itu, datang dua tukang ojek yang sedang kumpul dana karena ada rekan mereka yang meninggal. Penjual itu langsung cerita ke mereka, seolah-olah saya yang salah, kasih uang robek dan tidak mau ambil permen. Mereka ikut mengiyakan dan mau memihak mama itu. Saya langsung bilang, ini urusan saya dengan penjual, tidak perlu orang lain yang tidak tahu apa-apa dari luar datang ikut campur. Mereka pun lalu pergi.

Tidak lama kemudian, penjual itu ambil Rp 3.000 dari dalam laci dan kasih ke saya, tapi dengan wajah tidak ramah. Saya bilang, “Kalau memang ada kembalian, kenapa dari awal tidak kasih? Kenapa harus paksa saya beli yang lain? Kalau jualan, harus jujur dan ramah.”

Jujur, saya marah dan jengkel. Tapi di situ saya juga sadar, ini bukan cuma soal Rp 3.000. Ini soal kebiasaan yang sering terjadi. Seolah-olah orang Papua, khususnya di Paniai, kalau belanja harus pakai uang besar, dan tidak perlu kembalian kecil.

Saya yakin, ini bukan hanya saya yang alami. Banyak orang pasti pernah. Beli sesuatu, lalu dibilang “tidak ada kembalian”, dan akhirnya dipaksa ambil barang lain. Kadang benar tidak ada uang kecil, tapi sering juga itu hanya alasan. Supaya uang kita habis di situ juga.

Padahal, kalau mau berdagang, harus siap uang pecahan. Seribu, dua ribu, lima ribu, itu hal dasar. Jangan mau dibebankan ke pembeli.

Kalimat “kembaliannya tidak ada, ambil gula-gula saja” itu sudah terlalu sering kita dengar. Entah karena tidak siap, atau memang sengaja dijadikan cara untuk menambah pendapatan.

Bagi saya, ini bukan hal kecil. Ini soal kejujuran. Soal menghargai pembeli. Dan soal siapa yang pegang kendali atas uang kita. Uang saya, saya yang tentukan mau dipakai untuk apa. Bukan dipaksa oleh situasi atau oleh penjual.

 

Enarotali, Paniai, 6 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Refleksi Kegiatan Muspasmee VIII di Komopa

Literasi dan Perempuan di Moment Internatioanal Woman’s Day 2026